Tuesday, August 22, 2017

Fenomena manusia yang segar bugar kembali sebelum meninggal, terminal lucidity

Sehari sebelum temannya yang masih berumur 22 tahun meninggal, Sastri menemui keanehan padanya. Teman dekat yang menderita jantung, sempat dioperasi dan mengalami komplikasi asam lambung itu tiba-tiba segar.

"Sehari sebelumnya terlihat bugar. Jalan-jalan ke luar kamar rumah sakit. Tapi besoknya meninggal," ungkapnya pada Senin (21/8/2017).

Banyak orang yang mungkin melihat keanehan serupa pada orang yang hendak menemui ajal. Sara Manning Peskin, seorang ahli neurologi dari University of Pennsylvania, menuturkan pengalaman seorang perawat rumah sakit.

Seorang perempuan yang telah lama sakit tiba-tiba menanyakan pada sang perawat, "apakah saya akan mati?". Sang perawat menjawab, "Saya pikir begitu. Saya di sini untukmu."

Sang perawat menanyakan pada perempuan tersebut apakah dia membutuhkan sesuatu. Perempuan itu menjawab tidak, hanya mengatakan bahwa dia lelah. Tak sampai 6 jam setelah pernyataan lelah itu, perempuan itu meninggal dengan tenang.

Menurut sains, gejala kematian memang tak selalu tampak seperti death rattle, terminal agitation, ataupun sesak nafas. Gejala bisa jadi tampak halus dan kerap diartikan sebagai kesembuhan.

Fenomena kembali segar menjelang kematian itu diabadikan sejak masa Hippocrates dan Ibnu Sina. Mereka mengungkapkan, penderita penyakit mental memperoleh kesadaran kembali ketika ajal sudah dekat tanpa diketahui sebabnya.

Michael Nahm dalam publikasinya di Journal of Near death Experience pada tahun 2009 memperkenalkan istilah "terminal lucidity" untuk menggambarkan fenomena tersebut.

Dalam publikasi itu, dia menggali 80 referensi hasil penelitian fenomena terminal lucidity pada pasien yang menderita penyakit mental. Lewat publikasi yang berasal dari 50 penulis itu, dia berhasil mengungkap 49 kasus terminal lucidity.

Sejak publikasi itu, Nahm sudah merilis makalah laporan kasus terminal lucidity. Salah satunya yang terjadi pada Anna Katharina Ehmer, dipublikasikan di jurnal Death and Dying pada 1 Februari 2014.

Dalam publikasi itu, dokter melaporkan bahwa Ehmer menyanyikan lagu-lagu kematian setengah jam sebelum kematian benar-benar menjemputnya. Menurut Nahm, perilaku itu juga kerap dijumpai pada orang lain yang akan meninggal.

Apa yang memicu "terminal lucidity"? sampai saat ini, pemicunya masih misteri. Nahm masih menggugah kesadaran banyak peneliti untuk menaruh perhatian pada soal itu.

Pada pasien yang mengalami tumor otak, kata Nahm seperti dalam tulisan Peskin di New York Times 11 Juli 2017 lalu, terminal lucidity bisa dipicu oleh penyusutan otak yang berakibat pada pikiran yang lebih jernih. Tapi, pada penyakit ginjal, jantung, atau orang sehat, penyebabnya belum diketahui.

Nahm mengatakan, penelitian pada terminal lucidity bermanfaat secara medis maupun bagi keluarga yang ditinggalkan. Mereka bisa lebih siap menghadapi kematian orang yang dicintainya

Sumber : kompas.com