Sahabat Informasi

Sahabat Informasi

Temukan Pengetahuan Terbaru dan Terpercaya di SahabatInformasi.com

Herman Bicknell Orang Eropa pertama yang menggunakan nama asli saat masuk Makkah

Lebih dari empat puluh dari hampir 200 ?azal yang diterjemahkan Bicknell dicetak ulang sebagai
Lebih dari empat puluh dari hampir 200 ?azal yang diterjemahkan Bicknell dicetak ulang sebagai "The Diván of Háfiz" dalam "Sastra Persia"

Herman Bicknell adalah seorang individu yang luar biasa yang meninggalkan warisan yang abadi. Dia adalah seorang penjelajah yang berani, orientalis yang berdedikasi, dan penerjemah yang ulung. Dia menunjukkan kepada kita kekuatan rasa ingin tahu dan tekad, dan menginspirasi kita untuk keluar dari zona nyaman kita dan menjelajahi dunia dengan pikiran dan hati yang terbuka.

Bicknell mengingatkan kita bahwa dunia adalah tempat yang penuh dengan keragaman dan keindahan, dan ada banyak hal yang dapat kita pelajari dari budaya lain. Dia mendorong kita untuk menjembatani kesenjangan antar budaya dan membangun pemahaman dan rasa hormat yang lebih besar di antara orang-orang di seluruh dunia.

Masa Muda dan Pendidikan

Herman Bicknell lahir pada tanggal 2 April 1830 di Surrey, Inggris.[1] Masa kecil Bicknell tidak banyak diketahui, namun dia dibesarkan dalam keluarga yang terpelajar dan menunjukkan minat yang besar pada bahasa dan budaya.

Bicknell menempuh pendidikan di berbagai institusi ternama, termasuk Universitas Paris, Universitas Hannover, University College London, dan Rumah Sakit St. Bartholomew. Dia belajar berbagai bahasa, termasuk Inggris, Prancis, Jerman, Persia, dan Urdu.

Bicknell memiliki karir yang beragam, bekerja sebagai ahli bedah militer, orientalis, dan ahli bahasa. Dia menghabiskan beberapa tahun di Angkatan Darat Inggris, bertugas di Hong Kong dan Myanmar. Dia juga dikenal sebagai penerjemah ternama karya sastra Persia, khususnya karya Hafez, Rumi, dan Saadi.

Merupakan penerjemah ??fe? yang ternama

Herman Bicknell adalah seorang penerjemah ??fe? yang luar biasa dan berpengaruh. Keahlian bahasanya, akurasi, keindahan, dan pengaruh terjemahannya telah membuatnya menjadi salah satu tokoh penting dalam memperkenalkan ??fe? kepada audiens Barat.

Bicknell memiliki penguasaan bahasa Persia yang luar biasa, baik dalam bahasa lisan maupun tulisan. Dia fasih dalam bahasa Persia dan memahami nuansa bahasa dan budayanya dengan baik. Terjemahan Bicknell terkenal dengan akurasinya. Dia berusaha keras untuk menyampaikan makna asli puisi ??fe? dengan setia, tanpa mengurangi keindahan dan kekuatannya.

Terjemahan Bicknell tidak hanya akurat, tetapi juga indah dan mudah dipahami. Dia menggunakan bahasa Inggris yang puitis dan ekspresif untuk menangkap esensi puisi ??fe?. Karyanya telah dibaca dan dinikmati oleh jutaan orang di seluruh dunia, dan telah membantu meningkatkan pemahaman dan apresiasi terhadap budaya Persia.

Beberapa contoh terjemahan ??fe? yang terkenal oleh Bicknell termasuk:

  1. "The Divan of Hafiz" (1875)
  2. "The Rubaiyat of Hafiz" (1889)
  3. "Selected Poems from the Divan of Hafiz" (1904)

Terjemahan Bicknell terus dicetak ulang dan dibaca hingga saat ini, dan dia dianggap sebagai salah satu penerjemah ??fe? terbaik dalam bahasa Inggris.

Mengungkap cara Herman Bicknell bisa masuk ke Mekkah

Herman Bicknell tercatat sebagai orang Inggris pertama yang berhasil melakukan ibadah haji ke Mekkah tanpa menggunakan penyamaran sebagai Muslim lain atau menyembunyikan identitas kebangsaannya.

Perjalanannya membawanya dari London ke Mesir, Laut Merah, dan Jeddah, sebelum akhirnya mencapai Mekkah. Di kota suci tersebut, Bicknell berpura-pura menjadi seorang Muslim India dan mengikuti seluruh ritual ibadah haji dengan seksama. Pengamatannya yang detail tertuang dalam bukunya "Hajj to Mecca", yang diterbitkan pada tahun 1864.

Buku Bicknell menjadi salah satu karya penting yang membuka mata publik Barat tentang Islam dan ibadah haji. Karyanya membantu menghilangkan kesalahpahaman dan memberikan gambaran yang lebih akurat tentang ritual keagamaan ini.

Keberanian dan rasa ingin tahun Bicknell menjadikannya pelopor orientalisme Inggris, dan karyanya terus dipelajari hingga saat ini. Perjalanannya ke Mekkah merupakan kisah inspiratif tentang tekad dan rasa ingin tahu yang mampu menembus batas budaya dan agama.

Kotroversi dan kritik

Meskipun pencapaiannya luar biasa, perjalanan Bicknell ke Mekah tidak luput dari kontroversi. Pelanggaran larangan bagi non-Muslim untuk memasuki Mekah memicu kemarahan dan kecaman dari banyak pihak. Bicknell dianggap tidak sensitif dan provokatif, menimbulkan kekhawatiran tentang agenda tersembunyi di balik perjalanannya. Bicknell dituduh sebagai agen kolonialisme Inggris yang ingin mengendalikan wilayah Muslim. Kritik ini didasarkan pada fakta bahwa Inggris pada saat itu sedang dalam proses memperluas pengaruhnya di Timur Tengah, dan banyak orang yang melihat perjalanan Bicknell sebagai bagian dari upaya tersebut.

Bicknell tidak pernah secara terbuka mengakui bahwa dia adalah agen kolonialisme, tetapi beberapa orang percaya bahwa karyanya digunakan untuk mempromosikan kepentingan Inggris di Timur Tengah. Terlepas dari motifnya, perjalanan Bicknell memiliki dampak yang signifikan pada pemahaman Barat tentang Islam dan budaya Timur Tengah.

Referensi
  1. Encyclopaedia Iranica. (01 Januari 2018). "Bicknell, Herman". Diakses tanggal 16 Juni 2024.