Ugamo Batak dan istilah Sipele Begu

Dalam tradisi kepercayaan Batak dulu, setelah seseorang meninggal ada jasad atau daging, dan ada tondi yang meninggalkan daging. Setelah meninggal, bagian lebih penting dari seseorang itu adalah tondinya yang menjadi begunya. Namun begu itu tidak lagi menampakkan diri.
Dalam tradisi kepercayaan Batak dulu, setelah seseorang meninggal ada jasad atau daging, dan ada tondi yang meninggalkan daging. Setelah meninggal, bagian lebih penting dari seseorang itu adalah tondinya yang menjadi begunya. Namun begu itu tidak lagi menampakkan diri.
Manusia yang masih hidup berusaha merawat dan menghargai begu dan sumangot dari para leluhurnya itu melalui ritual dan sesembahan, sesaji, atau pelean, atau apa saja yang layak sebagai cara untuk menampilkan begu atau sumangot leluhurnya itu kelihatan bermartabat. Sumangot juga harus dirawat martabatnya agar sahalanya semakin kuasa dan lancar.

Dalam tradisi kepercayaan Batak dulu, setelah seseorang meninggal ada jasad atau daging, dan ada tondi yang meninggalkan daging. Setelah meninggal, bagian lebih penting dari seseorang itu adalah tondinya yang menjadi begunya. Namun begu itu tidak lagi menampakkan diri. Status tidak menampakkan diri ini dalam tradisi Batak diistilahkan orangnya sudah mengalihkan diri, bahasa Batak Toba untuk mengalih itu adalah Monding, atau membuat diri Onding, teralih atau tertutup dari padangan manusia biasa.

Jadi monding itu artinya bukan meninggal, tetapi setelah tondinya meninggalkan dagingnya, dirinya atau begunya itu lalu monding, tidak menampakkan diri.

Penggunaan istilah monding saat ini bergeser menjadi mengakhiri hidup atau marujung ngolu, karena bukan tondi atau begu yang masih menunggu perjalanannya itu yang orang sekarang utamakan dan jadi perhatian, tetapi jasad atau jenazah atau daging yang marujung ngolu, tubuh yang berakhir hidupnya itulah yang mereka perhatikan.

Begu dipercayai berada di sekitar kehidupan manusia juga. Perlu waktu baginya untuk menuju suatu status seperti "Moksa" dalam agama Hindu. Istilah lain asosiatif dengan begu yang sudah moksa adalah Sumangot. Sebuah kata yang mirip dengan semangat dalam bahasa Indonesia, namun artinya lebih luas.

Sumangot konotatif dengan memiliki Sahala, mulia dan kuasa. Seorang yang selama hidupnya di dunia selalu bersih dan penuh bakti, akan mudah bagi begunya untuk menaiki jenjang menuju sumangot. Disamping perilaku dan perbuatannya di dunia, begu masih membutuhkan dukungan perilaku dan perbuatan yang baik di tengah tengah masyarakat dari para keturunannya yang masih hidup.

Para keturunannya itu juga harus merawat dan membuat begunya tampil terhormat di hadapan manusia hidup dan terutama ditengah tengah masyarakat ghaib para begu dan sumangot. Dengan semua usaha itu suatu keluarga mengharapkan begu dari orangtua atau keluarganya berangkat naik menjadi sumangot yang bersahala. Semakin kuat dan panjang usaha itu status dari begu berubah jadi sumangot pun diharapkan berhasil. Tidak ada manusia yang mengetahui dan pasti kapan transfer itu terjadi. Karena itu penyebutan begu dan sumangot dalam menyebut arwah orangtua atau leluhur kadang kala berganti ganti. Kadang menyebut begu, kadang sumangot.

Tetapi kesejahteraan suatu keluarga sering dianggap sebagai tanda atau berasal dari sahala dari sumangot leluhurnya. Keluarga yang kurang sejahtera dengan demikian diartikan juga karena leluhurnya kurang punya sahala atau bahkan belum punya sahala. Begu dari leluhurnya tetap menjadi begu yang masih menunggu, karena kurang dirawat dan diberi penghargaan. Begu yang merana tidak terawat bila tidak kuat lagi, bukannya bangkit naik jadi sumangot yang bersahala, tetapi malah bisa mengganggu.

Manusia yang masih hidup berusaha merawat dan menghargai begu dan sumangot dari para leluhurnya itu melalui ritual dan sesembahan, sesaji, atau pelean, atau apa saja yang layak sebagai cara untuk menampilkan begu atau sumangot leluhurnya itu kelihatan bermartabat. Sumangot juga harus dirawat martabatnya agar sahalanya semakin kuasa dan lancar.

Tetapi sekarang kebanyakan mewarisi tradisi adat Batak itu dengan cara sebagian sebagian. Dipilah yang mana cocok bagi dirinya, tidak lagi total. Hampir semua menyangkal dirinya sebagai Sipele Begu. Banyak yang berpengharapan begu leluhurnya dan kehidupan mereka diselamatkan oleh yang lain. Atau dalam pemahaman individualistik setiap begu berjuang dan hidup sendiri.

Point dari tulisan ini yang ingin disampaikan adalah banyak orang Batak risi dibilang Sipele Begu. Bahkan ada yang membahasakan dirinya dengan istilah plesetan sebagai Sipalao Begu (begu leluhurnya dipalao) Padahal setidaknya mereka masih menghormati kuburan leluhurnya dan bahkan mengambil manfaat menaikkan martabat mereka sendiri dengan memperbaiki atau membangunnya sebagai tugu.

Sumber :
Siahaan Jim
4 Desember 2019
Informasi viral di whatsapp